Minggu, 08 November 2009

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta dikenal secara umum oleh masyarakat sebagai bangunan istana salah satu kerajaan nusantara. Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1950 ketika pemerintah Negara Bagian Republik Indonesia menjadikan Kesultanan Yogyakarta (bersama-sama Kadipaten Paku Alaman) sebagai sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.


A. Tata ruang Istana
Arsitek istana ini adalah Sultan Hamengku Buwono I sendiri, yang merupakan pendiri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda - Dr. Pigeund dan Dr. Adam yang menganggapnya sebagai "arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta". Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta 1921-1939).

Koridor di Kedhaton dengan latar belakang Gedhong Jene dan Gedhong Purworetno

Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimulai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung Nirboyo di selatan. Bagian-bagian utama keraton Yogyakarta dari utara ke selatan adalah:
1.Gapura Gladag-Pangurakan
2.Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Utara)
3.Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan
4.Kompleks Pagelaran
5.Kompleks Siti Hinggil Ler
6.Kompleks Kamandhungan Ler
7.Kompleks Sri Manganti
8.Kompleks Kedhaton
9.Kompleks Kamagangan
10.Kompleks Kamandhungan Kidul
11.Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarang disebut Sasana Hinggil)
12. serta Alun-alun Kidul (Lapangan Selatan)
13. Plengkung Nirbaya yang biasa disebut Plengkung Gadhing[8][9].

Bagian-bagian sebelah utara Kedhaton dengan sebelah selatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar bagunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah utara dan di sebelah selatan Kompleks Kedhaton menghadap ke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan kebanyakan menghadap timur atau barat. Namun demikian ada bangunan yang menghadap ke arah yang lain.

Selain bagian-bagian utama yang berporos utara-selatan keraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian tersebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kompleks Roto Wijayan, Kompleks Keraton Kilen, Kompleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota (mula-mula Sawojajar kemudian di nDalem Mangkubumen). Di sekeliling Keraton dan di dalamnya terdapat sistem pertahanan yang terdiri dari tembok/dinding Cepuri dan Baluwerti. Di luar dinding tersebut ada beberapa bangunan yang terkait dengan keraton antara lain Tugu Pal Putih, Gedhong Krapyak, nDalem Kepatihan (Istana Perdana Menteri), dan Pasar Beringharjo.

B. Arsitektur Umum

Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.

Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berbentuk/berkonstruksi Joglo atau derivasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misal Manguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, stilasi dari kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Lam Mim Ra, di tengah tiangnya.

Untuk batu alas tiang, Ompak, berwarna hitam dipadu dengan ornamen berwarna emas. Warna putih mendominasi dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks. Lantai biasanya terbuat dari batu pualam putih atau dari ubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari halaman berpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utama yang lebih tinggi. Pada bangunan tertentu dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.

Tiap-tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya. Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakan oleh Sultan dalam kapasitas jabatannya, memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan dengan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunan maka ornamen semakin sederhana bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas bangunan juga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau keseluruhan dari bangunan itu sendiri.

C. Kompleks Depan

>>Gladhag-Pangurakan

Gerbang utama untuk masuk ke dalam kompleks Keraton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Gladhag dan Gapura Pangurakan yang terletak persis beberapa meter di sebelah selatannya. Kedua gerbang ini tampak seperti pertahanan yang berlapis. Pada zamannya konon Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatu daftar jaga atau tempat pengusiran dari kota bagi mereka yang mendapat hukuman pengasingan/pembuangan.

>> Alun-alun Ler

Alun-alun Ler adalah sebuah lapangan berumput di bagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapang yang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagar yang cukup tinggi. Sekarang dinding ini tidak terlihat lagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yang tampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspal yang dibuka untuk umum.

Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beringin (Ficus benjamina; famili Moraceae) dan ditengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar yang disebut dengan Waringin Sengkeran/Ringin Kurung (beringin yang dipagari). Kedua pohon ini diberi nama Kyai Dewadaru dan Kyai Janadar. Pada zamannya selain Sultan hanyalah Pepatih Dalem yang boleh melewati/berjalan di antara kedua pohon beringin yang dipagari ini. Tempat ini pula yang dijadikan arena rakyat duduk untuk melakukan "Tapa Pepe" saat Pisowanan Ageng sebagai bentuk keberatan atas kebijakan pemerintah. Pegawai /abdi-Dalem Kori akan menemui mereka untuk mendengarkan segala keluh kesah kemudian disampaikan kepada Sultan yang sedang duduk di Siti Hinggil.

Di sela-sela pohon beringin di pinggir sisi utara, timur, dan barat terdapat pendopo kecil yang disebut dengan Pekapalan, tempat transit dan menginap para Bupati dari daerah Mancanegara Kesultanan. Bangunan ini sekarang sudah banyak yang berubah fungsi dan sebagian sudah lenyap. Dahulu dibagian selatan terdapat bangunan yang sekarang menjadi kompleks yang terpisah, Pagelaran.

Pada zaman dahulu Alun-alun Ler digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara dan upacara kerajaan yang melibatkan rakyat banyak. Di antaranya adalah upacara garebeg serta sekaten, acara watangan serta rampogan macan, pisowanan ageng, dan sebagainya. Sekarang tempat ini sering digunakan untuk berbagai acara yang juga melibatkan masyarakat seperti konser-konser musik, kampanye, rapat akbar, tempat penyelenggaraan ibadah hari raya Islam sampai juga digunakan untuk sepak bola warga sekitar dan tempat parkir kendaraan.

>> Mesjid Gedhe Kasultanan

Kompleks Mesjid Gedhe Kasultanan (Masjid Raya Kesultanan) atau Masjid Besar Yogyakarta terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun utara. Kompleks yang juga disebut dengan Mesjid Gedhe Kauman dikelilingi oleh suatu dinding yang tinggi. Pintu utama kompleks terdapat di sisi timur. Arsitektur bangunan induk berbentuk tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga. Untuk masuk ke dalam terdapat pintu utama di sisi timur dan utara. Di sisi dalam bagian barat terdapat mimbar bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, mihrab (tempat imam memimpin ibadah), dan sebuah bangunan mirip sangkar yang disebut maksura. Pada zamannya (untuk alasan keamanan) di tempat ini Sultan melakukan ibadah. Serambi masjid berbentuk joglo persegi panjang terbuka. Lantai masjid induk dibuat lebih tinggi dari serambi masjid dan lantai serambi sendiri lebih tinggi dibandingkan dengan halaman masjid. Di sisi utara-timur-selatan serambi terdapat kolam kecil. Pada zaman dahulu kolam ini untuk mencuci kaki orang yang hendak masuk masjid.

Di depan masjid terdapat sebuah halaman yang ditanami pohon tertentu. Di sebelah utara dan selatan halaman (timur laut dan tenggara bangunan masjid raya) terdapat sebuah bangunan yang agak tinggi yang dinamakan Pagongan. Pagongan di timur laut masjid disebut dengan Pagongan Ler (Pagongan Utara) dan yang berada di tenggara disebut dengan Pagongan Kidul (Pagongan Selatan). Saat upacara Sekaten, Pagongan Ler digunakan untuk menempatkan gamelan sekati Kangjeng Kyai (KK) Naga Wilaga dan Pagongan Kidul untuk gamelan sekati KK Guntur Madu. Di barat daya Pagongan Kidul terdapat pintu untuk masuk kompleks masjid raya yang digunakan dalam upacara Jejak Boto[28] pada upacara Sekaten di tahun Dal. Selain itu terdapat Pengulon, tempat tinggal resmi Kangjeng Kyai Pengulu di sebelah utara masjid dan pemakaman tua di sebelah barat masjid.

sumber : wikipedia.com dengan penyesuaian

Minggu, 01 November 2009

Tips ke Tempat yang Bahasanya Tidak Anda Kuasai

Apa yang Anda lakukan jika berkunjung ke atau berada di daerah yang bahasanya tidak Anda kuasai. Bagi seorang petualang, kendala bahasa bukanlah soal besar. Dengan sejumlah tips, para petualang dapat mengunjungi tempat-tempat yang bahasanya tidak mereka mengerti dan mendapatkan pengalaman berharga. Sejumlah anggota komunitas Fodors.com membagikan tips mereka berikut ini. Mudah-mudahan berguna juga untuk Anda.

1. Membawa kertas contekan.


"Saya biasanya membawa kartu indeks (atau menulis daftar di balik sampul kamus atau buku panduan Anda) kata-kata yang biasanya akan saya lihat di papan penanda, terutama kata-kata yang berlawanan, semisal: masuk-keluar; atas-bawah; keluar-masuk; dorong-tarik; tunggu-pergi." (dari kayd)

2. Kembali ke sekolah

"Mendaftarlah ke kursus bahasa di lembaga bahasa di daerah Anda. Saya belajar bahasa Italia selama 9 bulan di daerah saya beberapa tahun lalu dan belajar begitu banyak hal. Kemudian, Anda bisa melanjutkan dengan mendengarkan kaset. Kursus tersebut akan sangat membantu Anda memahami gramatika dan bagaimana membentuk kalimat." (dari Grassshopper)

3. Selalu tersenyum

"Ingatlah bahwa senyum selalu dipahami di semua bahasa. Banyak orang (terutama orang muda) dapat berbahasa Inggris, dan akan senang mencoba bicara dengan Anda dalam bahasa Inggris jika Anda mencoba menggunakan kata tolong dan terima kasih dalam bahasa lokal." (dari Iowa_Redhead)

4. Kuasai frasa-frasa dasar

"Saya selalu berupaya memahami 50-100 kata dalam bahasa yang digunakan negara yang akan saya kunjungi. Terutama frasa-frasa seperti ‘di mana...’, ‘tolong...’, ‘terima kasih’, ‘maaf, saya tidak pandai berbahasa...’." (dari daveesl)

5. Makanlah di restoran lokal

"Untuk menu makanan, hindari restoran yang menggunakan dua bahasa karena tempat itu biasanya jebakan untuk turis yang hanya menawarkan makanan yang tidak enak dengan harga yang mahal. Carilah seorang yang dapat mengartikan menu tersebut untuk Anda, dan Anda akan mendapatkan makanan yang lebih enak dan lebih otentik." (dari nytraveler)

6. Jangan ragu minta pertolongan

"Saya juga tahu bagaimana mengatakan 'Apa sebutannya di sini, atau bagaimana Anda mengatakannya dalam bahasa... ' sehingga saya dapat menunjuk sesuatu dan orang lokal akan mengajar saya perbendaharaan kata yang baru. Saya juga berkata ‘tolong tuliskan untuk saya’, meminta seseorang menuliskan kata baru tersebut." (dari suze)

7. Buatlah belajar bahasa jadi tujuan perjalanan Anda.

"Berjuang beberapa tahun di sekolah malam seminggu sekali, dan akhirnya menyerah belajar bahasa asing tersebut. Perjalanan intensif dua minggu benar-benar membuka mata saya. Saya memang tidak membuat langkah besar dalam ‘belajar formal’. Namun, setelah beberapa hari, saya tidak lagi gugup ketika bicara dalam bahasa tersebut. Bagi saya, ini sebuah kemajuan yang dahsyat." (dari willit).

Sumber :kompas.com

Sabtu, 31 Oktober 2009

Jogja..oh Jogja...



Pada liburan yang lalu, saya mencoba menelusuri kota Jogjakarta. Saya begitu takjub melihat keindahan kota itu. Keramaian kendaraan yang lalu lalang dengan pengaturan lalu lintas yang cukup "ok" ditambah dengan diterapkan jalur khusus pengendara sepeda. Transportasi bukan hal yang susah, ada bus way seperti di Jakarta "Trans Jogja". Saya kira bis nya besar dan bisa muat banyak penumpang seperti di Jakarta, ternyata bis yang hanya berkapasitas 45 seat itu memiliki halte yang "mini" :) hanya mampu menampung 10 orang saja. Rute trayek yang cukup padat,bener-bener efisien. Saya mencoba naik trans Jogja trayek 1 A jurusan Malioboro, halte yang dilewati oleh trayek 1A cukup padat dan bahkan daerah yang sering dikunjungi. Iyaah, sampe macet sich tapi gak apa-apa tetep nyaman. Sampai di Malioboro, saya mencari tourist informasi, dan wah saya senang sekali karena mereka memberikan banyak info tentang Malioboro dan Jogja tentunya. Daerah Malioboro merupakan daerah terpadat di Jogja,karena ada'something to see','something to buy', and 'something to do' . Kemudian saya naik becak untuk keliling-keliling. Dari melintasi mal malioboro, pasar bring harjo, benteng vredeburg,monumen sebelas maret, gedung kantor pos, alun - alun, museum sonobudoyo, keraton Jogjakarta, Taman Sari, dan pasar burung.Setelah selesai jalan-jalan, saatnya mengisi perut yang keroncongan, saya diantar menuju jalan Wijilan. Sepanjang jalan tersebut adalah penjual 'Gudeg'. Waah, jadi bingung mau pilih yang mana soalnya enak semua sich..:) akhirnya pak becak merekomendasikan Gudeg Bu Lies. Rame banget tempatnya, berarti enak nich. Saya masuk dan memilih menu Gudeg,yaitu nasi,ayam opor, gudeg, kreceg, tahu, dan sambal.. nyam..nyam..nyam.. 'DELICIOUS' dipandu dengan rasa manis khas Jawa dan pedasnya sambal membuat rasa makanan tersebut sangat maknyus :)
Gudeng termasuk makanan pilihan untuk wisatawan non Jogjakarta, selain itu ada juga Bakpia Pathok 25 dan 75. Saya rekomendasikan Bakpia 75 meski harganya paling mahal, namun kualitas nya top dech. Kembali ke Gudeg, uniknya saat kita beli bungkus makanan tersebut akan di letakkan dalam 'besek' kotak yang dibuat dar anyaman bambu atau terkadang di taruh dalam kendi kecil. Benar - benar terlihat tradisional. Tidak ada salahnya juga untuk mencoba Gudeg ditempat yang lain, karena pada dasarnya rasa Gudeg adalah sama yaitu identik dengan manis. Bagi yang penderita diabetes disarankan tidak makan terlalu banyak. Makanan boleh bervariasi namun kesehatan dalam diri harus tetap di Jaga. [ika]